Halo para pembaca...
Sambil menikmati kesunyian dini hari di pinggir Kali Pepe, perbatasan Boyolali-Karanganyar, saya merenungkan sebuah fenomena sosial yang terjadi belakangan ini. Fenomena tentang terkikisnya watak asli kita. Ada pepatah lama yang menggelitik: "Wong Jawa ilang Jawane"—banyak orang Jawa yang kehilangan jati diri dan karakter Jawanya.
Di zaman modern yang serba cepat ini, watak manusia memang sedang diuji habis-habisan. Dalam falsafah hidup kuno, karakter manusia yang paling tangguh itu sebenarnya dirangkum dalam satu kata kunci: Eling (ingat, sadar, dan tahu diri). Lawannya adalah watak yang gampang Katut (terbawa arus atau hanyut).
Orang yang wataknya kuat itu ibarat batu di tengah sungai. Arus air boleh mengalir deras—seperti tren dunia yang berubah-ubah—tapi batunya tetap kokoh tidak bergeser. Dia tahu siapa dirinya, tahu prinsip hidupnya, dan selalu Eling pada akarnya.
Sebaliknya, di sekitar kita hari ini, banyak sekali watak manusia yang ibarat sampah dedaunan di pinggir kali. Begitu ada arus informasi atau tren baru sedikit saja di media sosial, mereka langsung katut tanpa arah. Ikut-ikutan menghujat, ikut-ikutan bergaya hidup mewah, sampai akhirnya kehilangan kebersahajaan dan ketenangan batin.
Menjaga watak agar tetap Eling di tengah gempuran zaman memang tidak mudah. Tapi di situlah letak seninya menjadi manusia. Orang tua zaman dulu selalu berpesan agar kita senantiasa Eling lan Waspada. Tetap mengikuti perkembangan zaman, tapi jangan sampai hanyut digulung oleh zaman itu sendiri.
Bagaimana dengan kita hari ini? Apakah prinsip hidup kita sudah sekokoh batu kali, atau jangan-jangan tanpa sadar kita masih sering katut oleh keadaan?
Komentar
Posting Komentar